Gagal Terbang di India

Hari ini aku bangun lebih awal. Terimakasih Allah, Engkau masih memberi kesempatan hidup untuk menjelajah bumi-Mu hari ini.

Aku sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa bepergian adalah ibadah. Selain dia juga dalam keadaan safar, seharusnya kondisi itu juga membuat seseorang lebih banyak meminta perlindungan dalam perjalanan karena musibah dan kematian datang tanpa permisi.
Sebagaimana aku membaca ayat-Mu pada QS. Al-Mulk ayat 19 yang artinya; 

" Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Hanya berharap apa yang sedang aku lakukan sekarang selalu dalam pelukan ridha dan ampunan-Mu. Amin.

Perjalanan dari Jakarta Timur sampai Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng melesat cepat sekitar 50 menit menggunakan jasa angkutan mobil online pukul 3 pagi. Kali ini aku membersamai kakakku untuk melakukan beberapa proyek di sana. Memangnya dimana? 
Ya! Tempat dimana film Bajrangi Bhaijaan digarap, Kashmir. Kashmir adalah daerah di bagian Utara India yang secara politik dijelaskan sebagai wilayah yang lebih besar yang termasuk wilayah Jammu, Kashmir, dan Ladakh.

Sampai di bandara terminal 2F kami masih sempat untuk shalat shubuh di mushala bandara yang nyaman dan dingin. Pukul 06.22 kami telah usai melewati security check dan menunggu di lounge sampai waktu boarding pukul 08.30. Hari itu udara begitu dingin dan sedikit gerimis. 

Sebelum masuk ke security check, aku sempat bingung harus masuk pintu berapa karena di boarding pass kami tidak disebutkan nomor gatenya. Alhasil bolak-balik lah kami ke counter maskapai untuk menanyakan kejelasan gate yang seharusnya kami masuki. Oke, fyi, penerbangan Internasional untuk maskapai yang kami gunakan berada di 2D jadi yaa lumayan jalan banyak, terlebih backpack kami seberat 8 kg di punggung dengan tentengan winter cout yang lumayan memicu perhatian orang. Bagi sahabat yang menggunakan sepatu boats harap disiapkan tenaga untuk lepas pasang ketika melewati x-ray yaa :D

Bismillahi majreha wa mursaha...

Kebetulan tiket yang kumiliki harus transit dahulu ke Bandar Udara Kuala Lumpur 2 selama 6 jam. Tapi dengan fasilitas yang ditawarkan bandara di KL, tidak membuat kami begitu bosan, terlebih Wi-Fi bandara gaspol terus sampai 24 jam. Di Bandara KLIA2 ini banyak fasilitas yang menurutku unik, salah satunya tempat mandi yang bersih, nyaman dan segar. Pokoknya bener, bandara ini bandaranya para backpacker yang biasa dihinggapi para transitter dari banyak negara di dunia.

Kuala Lumpur International Airport 2

Kami menghabiskan 6 jam di bandara dengan mampir isi perut di foodcourt, window shopping, jalan-jalan mengelilingi bandara sambil cari spot untuk merebah, dan pastinya capturing the memories :') sambil merancang itinerary selanjutnya begitu sampai ke Delhi, India.

Uh, I can't help to hello-ing my childhood imagination😅

Setelah penantian 6 jam yang membahagiakan sambil charging hp, GoPro, dan kamera, kami memulai security check lagi di bandara ini.

Our airplane parked there


Bersama dengan penumpang lainnya, ini kali pertama aku satu pesawat dengan banyak bule, terutama bule berbrewok hihihi
Karena ini penerbangan terakhir menuju Delhi, jadi aku sengaja tidak banyak bicara dengan orang di sebelah. Tau kan alasannya apa? Yups! Tidur :')
Kurang lebih 5 jam penerbangan, di tengah-tengah perjalanan, entah di ketinggian berapa dan di daerah mana, sempat sekali pilot memperingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman karena turbulensi. Alhamdulillah tidak berlangsung lama, jadi bisa lanjut tidur lagi :')

"Dear all passengers, in few minutes we will arrive in Indira Gandhi International Airport..."

MasyaAllah, Alhamdulillah, Tabarakallah, Engkau jalankan kakiku sampai kesini. Thank you God!


My first step at I. G. I Airport

Perbedaan yang paling mencolok saat menapakan kaki di Bandar Udara Internasional Indira Gandhi adalah tidak ada lagi penyebutan "toilet" tapi "washroom", tentara bersenjata laras panjang mulai bertebaran dan bermekaran dimana-mana (mungkin karena pengamanan diperketat terkait Republic Day tanggal 26 Januari sudah mendekat), sinyal ada tapi paket internet tidak bekerja kecuali sahabat beli roaming dari Indonesia atau bisa juga beli paket internet di sini, bau masala dimana-mana, dan badan yang mulai menggigil karena suhu turun sampai 10-11°C.

Pengalaman pertama kami di bandara ini adalah gagal beli air mineral di vanding machine padahal uang 10 rupee udah masuk :( 
Yaa walaupun 10 rupee setara dengan 2500 rupiah, tapi tetap saja uang. Oke, leave it!

Kami bergerak menuju Imigrasi untuk VOA (Visa on Arrival) yang mengantre lumayan banyak. Jadi di VOA I.G.I Airport dibagi dua, satu untuk stamped visa, satu untuk e-visa. Nah, kebetulan kami menggunakan e-visa jadi antrean lumayan tidak sebanyak stamped visa. Oya, visa Indonesia ke India 0 rupiah ya, jadi saranku kalau sahabat mau berkunjung ke India lebih praktis dan mudah pakai e-visa saja :)

Aku mulai tegang, soalnya dari lahir sidik jariku itu agak susah terbaca, terlalu tipis mungkin yaa, tapi disyukuri saja dan berdoa semoga pas pengecekan sidik jari tidak memakan waktu yang lama.
Hiya... Setelah wawancara singkat tentang itinerary di India oleh petugas imigrasi, diambil gambar, sampailah ke pengecekan sidik jari. Kakakku yang cukup 5 menit ditanya ini-itu dan pengecekan, aku tertahan hampir 20 menit. Aku bisa melihat wajah petugas imigrasi yang sudah lelah dengan tanganku yang bolak-balik nambahin handsanitizer, mengelap papan baca, tapi... Failed!

"Ya Allah apa akan ada orang gagal masuk India karena sidik jari lama terbaca? Hmm shalawat aja aku banyak-banyak"

And...finally! Alhamdulillaah! Lolos!
Welcome to India😎


Indira Gandhi International Airport

Jam menunjukkan pukul 00.00 waktu setempat dengan perbedaan waktu 2 jam dari Indonesia. Hal pertama yang kami lakukan adalah membeli paket internet karena provider yang kami pakai tidak bekerja di sana dan hasil hitungan kami lebih mending membeli paket internet di sana seharga 1000 rupee. Provider yang kami beli adalah Airtel, dimana persyaratan untuk memiliki nomor ponsel India adalah harus: isi form registrasi, di foto petugas providernya, bayar 1000 rupee, tapi... aktif 12 jam kemudian. Oke, kami terima karena ada WiFi di bandara ini, meskipun hanya 45 menit dengan login nomor ponsel terlebih dahulu.

Setelah beli paket internet, kami isi perut sebentar dengan minum air mineral, permen, dan sebungkus coklat, berdua. Kebetulan kami memang sedang tidak nafsu makan, entah mengapa.

Itinerary pertama kami adalah Srinagar, jadi kami harus mengambil jalur transfer penerbangan domestik untuk penerbangan paling pagi Delhi-Srinagar. Untuk berjaga-jaga kami segera mencari counter maskapai penerbangan yang kami gunakan untuk melakukan web-check-in, namun sudah mutar-muter kesana kemari kami tidak menemukan dimana itu counter berada. 
Rupanya dari tempat kami keluar, pintu kedatangan, harus berjalan ke pojok sebelah paling kanan bandara untuk masuk ke pintu keberangkatan domestik. Saat menuju kesana, kakakku melihat 2 petugas maskapai penerbangan yang kami pakai dan segera menanyakan penerbangan kami ke Srinagar.
Kakakku sempat mendengar kata "cancel" namun dalam bahasa Hindi. Segera kutepis pikiran itu, barangkali kakakku salah dengar.

Lanjut ke security check menuju pintu keberangkatan. Kami sempat ditanya oleh tentara, 
"Where is your luggage?"
"Here you are (sambil nunjuk ke backpack kami)"
"Only this?"
"Yes, sir"

Mereka heran kali ya ke daerah yang lagi heavy snow cuma bawa satu backpack hehe. Kita sendiri juga bingung :')

Kakakku segera menuju counter maskapai penerbangan kami dan sayangnya belum ada petugas. Oke, kami menunggu sampai jam 4 pagi sambil gegoleran di ruang tunggu. Fix, ada untungnya aku tidur di pesawat lama :')


Sleeping a while

Sambil menunggu sekitar 3,5 jam, kami coba-coba untuk check-in web, namun menurut webnya kami tidak diizinkan untuk check-in melalui web karena sisa seat yang ada adalah emergency exit door sehingga pihak maskapai harus memastikan persyaratan penumpang yang duduk di kursi itu.

Yasudah, kami benar-benar menunggu sampai jam 4 sambil menggigil kedinginan.

04.00 waktu setempat tanggal 22 Januari 2019.
Kami diizinkan masuk dan segera menuju ke counter maskapai.

Processing...

"Sorry, Mam. Your flight was being cancelled"
"Whaaaat!"

-to be continued-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

End 2021 : Drop Some Words

Singapura : lewat Batam, ngintip 9 jam

Tears...